Senin, 13 Januari 2014

Blusukan di Petak Sembilan - Glodok, Jakarta

Jika berkunjung ke daerah Kota Tua, Jakarta, Tampaknya belum lengkap rasanya jika tidak berkunjung ke Petak Sembilan yang terletak di kawasan Glodok. Dahulu di kawasan Glodok ada semacam waduk penampungan air kali Ciliwung.Glodok berasal dari kata grojok sebagai bunyi dari air yang jatuh dari penampungan air tersebut. Orang Tionghoa dan keturuan tionghoa menyebutnya dengan Glodok karena sulit mengucapkan kata grojok layaknya orang pribumi.

Sebelum masa kekuasaan Belanda, Glodok sudah didiami oleh orang Tionghoa. Kemudian di tahun 1740 terjadi pemberontakan kaum Tionghoa dengan pemerintahan Belanda sebagai bentuk protes terhadap pajak yang dikenakan yang sangat tinggi. Namun, pemberontakan kaum Tionghoa terkalahkan dan menyebabkan kaum Tionghoa diusir dari dalam tembok kota dan mendiami kawasan Glodok sehingga kemudian kawasan ini menjadi pusat perkampungan kaum Tionghoa. Sejak itu Glodok berubah menjadi Pecinan dan sebagai pusat perdagangan. Petak Sembilan berada agak sedikit ke dalam, tepatnya di belakang Pasar Pagi Glodok.

Terdapat banyak “harta karun” yang berada di Petak Sembilan. Mari kita telusuri harta apa saja yang ada. Mari mulai perjalanan dari Halte Busway Olimo kemudian menyeberang ke arah barat, memasuki gang Jl Kemurnian. Sebuah gerbang tinggi menghiasi depan gang jalan tersebut. Saat masuk lebih dalam lagi terlihat deretan rumah yang berjejer rapat dengan teralis tinggi menghiasi seluruh rumah. Bahkan teralis tersebut sengaja dipasang hingga lantai dua.


Adanya teralis pada rumah-rumah yang berada di kawasan Glodok memang sengaja dipasang dengan tinggi hingga mencapai langit-langit bahkan tidak sedikit yang memasang hingga menutupi lantai atas. Teralis tersebut dipasang perkiraan saat kerusuhan pada Mei 1998 dimana kaum Tionghoa menjadi target kekerasan pada masa itu. Sehingga pemasangan dilakukan dengan tujuan perlindungan diri terhadap segala jenis kekerasan hingga perusakan atau penjarahan oleh warga sekitar.

Lurus saja susuri Jl Kemurnian tersebut hingga penghujung jalan yang bercabang kiri dan kanan. Saya menyebut pertigaan tersebut sebagai Triangle of Life. Di belakang saya terdapat nuansa kewaspadaan dengan teralis yang menjunjung tinggi pada setiap rumah. Kemudian saat menoleh sebelah kanan, terdapat sebuah keramaian pasar. Saat menoleh ke kiri, terdapat sebuah Vihara.  Belakang nuansa terasa mencekam layaknya berada di bibir neraka, kanan terasa ramai dengan khidupan seperti di bumi, lalu di kiri terasa damai dengan nirvana sebagai penyejuk hati.itu lah yang saya rasakan ketika berada persis di ujung persimpangan gang. Perasaan yang unik

Dari persimpangan inilah perjalanan kita dimulai. Ada banyak hal menarik di kawasan Petak Sembilan ini. Berikut diantaranya:
a.        Vihara Dharma Bhakti
Ada sebuah vihara terbesar di Jakarta yaitu Vihara Dharma Bhakti. Pada vihara ini terdapat tiga Klenteng yaitu Klenteng Hui Ze Miao, Di Cang Wang Miao dan Xuan Tan Gong (Vihara Dharma Bhakti) yang tergabung menjadi satu kompleks bangunan. Vihara ini dibangun pada sekitar tahun 1650 oleh Letnan Quo Xun Guan dan diselesaikan pada tahun 1669 oleh Kapten Guo Jun Guan kemudian diberi nama Guan Yin Ting.  Tahun 1755 nama berubah menjadi Jin De Yuan, diberikan oleh Kapen Huang Shi Lao. Masyarakat sekitar juga menyebutnya dengan nama Kim Tek I. Banyak orang yang menggantungkan hidupnya di klenteng ini. Saat memasuki gerbang utama, pengunjung langsung disambut oleh pemandangan anak kecil serta orangtua hanya duduk di dalam kompleks vihara. Mereka adalah para gepeng yang mengandalkan belas kasih berupa receh yang diberikan oleh peziarah vihara. Pada bagian tengah Vihara Dharma Bhakti terdapat gazebo kecil untuk tempat membakar dupa dalam bentuk atap segi delapan yang merupakan lambang Pat-Kua atau delapan arah mata angin, dengan ukiran patung naga pada setiap ujung-ujungnya. Pada ujung atap terdapat cungkup berbentuk bunga lotus.



b.        Pasar Pecinan
Pasar yang terletak di belakang Vihara Dharma Bhakti bisa dibilang bukan pasar biasa. Jika menyelusuri dan berbelanja di pasar ini, akan banyak ditemukan bahan-bahan masak yang digunakan dalam masakan khas Tionghoa seperti katak, baik yang terikat masih hidup atau yang sudah direbus dan dikuliti, bulus, aneka jamur, dan masih banyak lagi bahan yang tidak dijual di pasar tradisional lainnya. Selain bahan masak, juga terdapat toko jual barang kebutuhan ziarah, perlengkapan doa serta penjual kertas angpao yang didominasi dengan warna merah. Dengan adanya jejeran toko ini membuat nuansa oriental semakin kental. Nuansa akan semakin meriah saat menjelang perayaan Imlek dengan penuh ornamen-ornamen Imlek.



c.         Gereja St Maria De Fatimah
Saat memasuki lebih dalam ke arah barat pasar, ada sebuah gereja dengan nama Gereja St Maria De Fatimah. Gereja terletak di sebelah SMA Ricci.Gereja ini menjadi hal yang unik karena adanya nuansa budaya Tionghoa yang menghiasi eksterior maupun interior gereja. Saat lihat dari luar, langsung dapat menangkap nuansa oriental dari warna merah yang menghiasi tiang dan pintu maupun jendela. Juga terdapat tulisan mandarin di atas atap. Saya mendapat informasi bahwa keadaan di dalam didominasi dengan kayu besar seperti terdapat dalam vihara. Sayangnya waktu itu pintu dalam keadaan tertutup, sedang tidak ada ibadah misa.


d.        Kuliner
Jika anda pecinta kuliner, Petak Sembilan adalah surga kecilnya perkulineran. Kuliner yang beraneka ragam dari makanan khas Tionghoa, hingga makanan tradisional Jakarta. Makanan didominasi oleh makanan non-halal yang mengandung babi, namun juga ada makanan halal. Surga kecil itu tepatnya bernama Gang Gloria. Gang gloria merupakan gang petak lima yang terletak tidak jauh dari pasar. Sebuah kios kecil yang menjual bakso besar serta cemilan seperti sate, Bak Cang serta tulisan nasi campur adalah ciri utama gang tersebut. Berikut adalah makanan yang terdapat di Gang Gloria:
-    Nasi campur, nasi hainam, babi panggang, babi panggang merah, sate babi. Tempat makan berupa kios kecil dengan bangku dipan yang berjejer di kiri dan kanan. Juga ada banyak gerobak dengan tulisan sekba dan pioh. Sekba merupakan makanan yang berisi jeroan babi dimasak dengan black soy sauce sehingga kuahnya coklat kental dengan sayur sawi asin. Sedangkan pioh adalah bahan utamanya adalah telur bulus. Bisa dibilang, Gang Gloria sangat terkenal dengan makanan serba-serbi babi.
-     Jika masuk ke dalam lagi terdapat warung kopi Tak Kie yang sudah ada dari tahun 1927. Kedai kopi ini buka mulai pukul 06.30 WIB hingga 14.00 WIB. Minuman yang khas adalah Es Kopi Tak Kie dengan harga hanya Rp.10.000 per gelasnya. Kopi ini sangat terkenal dengan racikannya yang mencampur berbagai jenis kopi seperti kopi Robusta maupun Arabika dari Lampung, Toraja, hingga Sidikalang.  namun kandungan kafeinnya rendah sehingga aman bagi lambung untuk penderita maag dan tidak menyebabkan jantung berdebar bagi yang tidak biasa konsumsi kopi. Kini pemilik telah mempunyai menu baru yaitu Kopi Tak-Tak. Berbeda dengan Es Kopi Tak Kie, untuk Kopi Tak-Tak memiliki khas aroma kopi yang kuat sehingga dapat menyebabkan jantung berdebar dan meningkatkan asam lambung bagi penderita maag. Kopi Tak-Tak ini diberi harga Rp.15.000 per gelasnya.
-    Tidak jauh dari warung kopi Tak Kie, terdapat Soto Betawi A Fung yang mulai berdagang sejak tahun 1982. Nama A Fung diambil dari nama pemiliknya yaitu Ho Tjiang Fung. Walau namanya menggunakan nama Tionghoa namun untuk makanan ini tidak mengandung babi. Jadi aman dikonsumsi bagi teman-teman muslim. Jika dilihat daftar menunya, soto betawi A Fung tidak berbeda dengan soto betawi lainnya yang menawarkan daging sapi, babat maupun campur. Namun jika cicipi baru terasa uniknya soto ini. Potongan isi yang cukup besar dan lembut serta rasa kuah yang khas membuat kolaborasi yang nikmat.
-   Ada lagi menu yang aman dicoba oleh teman muslim, yaitu rujak juhi. Di depan Soto Betawi A Fung terdapat gerobak Rujak Juhi dengan bapak paruh baya yang penuh senyum. Rujak Juhi merupakan makanan khas Betawi yang terdiri dari kentang, mie basah, ketimun, kol, selada serta dengan irisan cumi yang dikeringkan yang ditaruh paling atas kemudian disiram oleh bumbu kacang dan dilengkapi oleh kerupuk mie kuning dan emping. Sekilas isian mirip dengan gado-gado namun yang membedakan adalah irisan cumi yang memberikan aroma rasa yang berbeda dari gado-gado. Dengan harga Rp.18.000 sudah mendapatkan seporsi makanan yang bergizi lengkap yang dapat menjadi pilihan bagi teman muslim.

2 komentar:

  1. saya selalu beli teh hijau kalau ke petak sembilan ;) thanks for the review

    BalasHapus