Jumat, 29 November 2013

Sukabumi: Sebuah Perjalanan Persahabatan - Part 2

Berada di kota sejuk seperti Sukabumi membuat saya pelit bergerak alias mager atau malas gerak. Alasan utama saya malas gerak adalah temperatur air yang sungguh dingin membuat kulit saya enggan disentuh ditambah suhu ruangan yang sejuk disertai angin semilir di dalam rumah teman saya menyebabkan kantuk yang tak kunjung usai. Jadilah saya yang bagai onggokan pohon yang sulit digulingkan. Padahal hari sebelumnya saya sudah berencana bangun pagi untuk langsung segera keliling kota sejuk ini. Akhirnya wacana itu kandas dengan wacana semata.

Berhubung teman saya sudah harus kembali  ke Jakarta hari minggu sore, akhirnya di sekitar jam 11 saya memberanikan diri untuk berjibaku dengan kedinginan air Sukabumi. Syukurlah saya menang dan selamat dalam pertarungan dengan air dingin itu. Ternyata masih lebih dingin hati saya makanya saya menang! *halah*.

Selesai mandi Mas Dimas, sang tuan rumah, celetuk, “Yuk! kita ke PH!”. Saya bertanya “itu tempat apa? Jauh?” Saya memikirkan si bocah kecil berusia 3 bulan yang ikut diboyong oleh ibunya bila perjalanan itu jaraknya cukup jauh. “Gw juga belum pernah ke sana. Deket kok. Paling setengah jam” jawab Nisty. Oke, setengah jam tidak terlalu jauh jika ditempuh bersama bayi 3 bulan, batinku.

Pukul 12-an menjelang jam 1 siang kami mengendarai motor matic dari Karang Kengah langsung menuju Pondok Halimun. Ke Pondok Halimun juga bisa diakses menggunakan kendaraan umum dari terminal Sukabumi dengan jurusan Selabintana kemudian disambung dengan berjalan selama satu jam menuju Pondok Halimun.

Setelah sekitar 30 menit mengendarai motor akhirnya palang pintu dengan tulisan “Kawasan Pondok Halimun” sudah terlihat dari kejauhan 100 m. Itu adalah pintu masuk pertama untuk memasuki kawasan wisata Pondok Halimun dengan petugas sudah duduk manis untuk menarik retribusi sebesar Rp2.000/orang. Saya bernapas lega setelah mengendarai motor dengan kondisi jalan yang cukup banyak jebakan yaitu lubang yang cukup besar dan banyak batu cukup besar. Terutama saya boncengi teman saya yang lebih berat dari saya. Kebayang bagaimana leganya ‘kan? Hehehehe.. Saya kembali mengikuti motor teman saya dari belakang untuk mencari tempat parkir. Tapi.. loh kok jalan terus? Oh ternyata perjalanan ini belum berakhir! Saya kembali menarik napas. Hauufffft! Semangat!

Ternyata setelah pintu masuk pertama kita memasuki kawasan kebun teh Kampung Perbawati. Cukup luas dan asri dengan pemandangan yang serba hijau. Hanya saya tidak bisa puas menikmati pemandangan kanan kiri saya karena saya harus konsentrasi pada jalan yang rusaknya lebih parah dari sebelum memasuki pintu masuk. Lebar jalannya cukup 1 mobil dengan jalan yang belum diaspal secara menyeluruh. Bagian yang telah diaspal pun sudah tidak mulus. Banyak lubang dan batuan yang menghiasi sepanjang menuju kawasan Pondok Halimun sesungguhnya dengan sebelah kanan adalah ladang dengan kerendahan sekitar 1 meter. Jadi saya tidak boleh ceroboh berkendara terutama membonceng karyawan yang harus pulang sore itu. Ini lah perjalanan sesungguhnya! Membawa sang karyawan kantoran dengan selamat tanpa terjadi apapun yang dapat membuatnya tidak masuk kerja. Tanggung jawab yang sungguh berat.

15 menit dari pintu masuk pertama akhirnya kami sampai di Kawasan Pondok Halimun sesungguhnya. Kami kembali ditarik biaya retribusi sejumlah Rp10.000 untuk ber4 sudah termasuk 2 motor. Kata teman saya itu hasil negosiasi suaminya. Saya tidak tahu untuk tarif aslinya. Dari pintu masuk dari tempat petugas retribusi, saya langsung disuguhkan 3 tempat berbeda. Depan, kiri, dan kanan. Depan adalah jalur trekking menuju perkebunan teh yang bisa juga digunakan untuk motor cros, kiri adalah jalan menuju air terjun Cibeureum sekaligus alternatif jalan menuju Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, sedangkan ke kanan adalah taman kecil yang ada kali dari sumber mata air Gunung Salak.

Yah karena tema perjalanan ini adalah wisata keluarga baru bersama bayi berusia tiga bulan, kami memilih untuk bersantai saja di taman kecil. Taman ini sungguh sejuk, asri dengan dikelilingi oleh pohon rindang dan ada kali kecil yang semakin memberi kesan ketenangan dari gemericik air mengalir cukup jernih. Cocok untuk wisata keluarga dengan membawa anak usia dini belajar berkenalan dengan alam. Di taman tersebut terdapat beberapa pondok yang bisa digunakan untuk beristirahat, beberapa penjual minuman dan makanan hangat seperti kopi dan mie instan. Penjual juga menyediakan tikar bagi pengunjung yang tidak membawa alas duduk untuk digelar di rerumputan. Juga terdapat arena bermain untuk anak berupa panjat tali dan perosotan untuk melatih motorik anak. Saat saya berkunjung ke sana, ada beberapa pembangunan pondok dan keadaan arena bermain anak yang sudah tidak terawat. Sehingga alternatif bermain anak hanya bermain air di kali bersama orang tua. Berikut sekilas foto Taman Pondok Halimun:









Saya cukup terkesan dengan kesejukan dan suasana asri yang ditawarkan oleh Pondok Halimun. Satu hal yang sangat disayangkan yaitu mengenai pengelolaan sampah yang ditinggalkan serta minimnya kesadaran pengunjung untuk mengumpulkan sampah dan dibuang di tempat sampah. Saya tidak menemukan adanya tong sampah di sekitar lokasi pengunjung bersantai. Tentu saja pengunjung membuang sampah sembarangan karena tidak adanya fasilitas yang tersedia. Kesadaran pengunjung mengumpulkan sampah di satu plastik kemudian dibawa pulang sementara sambil mencari tempat sampah pun masih rendah. Sehingga sampah dapat ditemui dimana-mana. Padahal di pintu masuk taman kecil terdapat palang pengumuman yang terpajang berisi himbauan untuk menjaga kebersihan dan keasrian kawasan. 



Jika saja ada pengelolaan sampah yang lebih baik, pembangunan pondok selesai dan arena bermain anak terawat dan diperbaharui, mungkin kawasan Pondok Halimun akan menjadi kawasan hiburan alam yang dapat diandalkan oleh warga Sukabumi terutama bagi orangtua muda yang baru memiliki anak.

1 komentar: