Selasa, 12 November 2013

Sukabumi: Sebuah Perjalanan Persahabatan - Part 1

Sudah berminggu-minggu punya rencana ke Sukabumi mengunjungi Nisty, teman dekat kuliah yang baru melahirkan, akhirnya terealisasikan hari sabtu tanggal 19 Oktober 2013 lalu. Perjalanan kali ini saya ditemani teman kuliah yang bekerja di Jakarta. Teman saya seorang perempuan bernama Putri yang biasa kami sebut Owek.

Pukul 08.20 WIB kami memulai perjalanan dari Stasiun Tebet menuju Stasiun Bogor dengan tarif tiket Rp.9.000 sudah termasuk biaya jaminan kartu seharga Rp.5.000. Kami tiba di Stasiun Bogor pukul 09.30 WIB dengan perut keroncongan karena tanpa janjian kami sama-sama belum sarapan. Kemudian kami memutuskan untuk rehat sejenak untuk makan dengan menu apa pun yang ada di luar stasiun. Jika keluar melalui pintu keluar yang lama, kita akan temui banyak pedagang berjejeran di luar pagar stasiun. Dari makanan hingga perlengkapan rumah tangga. Dari sekedar kudapan pisang goreng, tahu sumedang hingga soto mie khas bogor. Dari pedagang bermodal alas plastik saja, bakul, gerobak, hingga ruko yang berjejer rapi.

Pilihan kami jatuh pada soto mie yang berada di jejeran ruko. Menu utamanya adalah soto mie dan soto santan. Semula kami bingung dengan menu tersebut karena bagi kami dua menu tersebut tampak sama saja. Sama-sama soto. Setelah dijelaskan oleh penjual, ternyata soto mie adalah menu soto dengan tambahan menggunakan mie namun kuah kaldu dimasak tanpa santan. Sedangkan soto santan adalah menu soto tanpa tambahan mie dengan kuah kaldu dimasak menggunakan santan. Dua menu tersebut seharga Rp.12.000 sudah dengan satu porsi nasi putih. Akhirnya kami sama-sama memesan soto mie untuk menghindari santan yang dapat menyebabkan kolesterol yang tinggi.

Setelah terkenyangkan oleh seporsi soto, kami melanjutkan perjalanan berikutnya dengan naik angkutan kecil yang berjejer rapi di luar stasiun. Kami menaiki angkutan dengan nomer 03 yang menuju Terminal Baranang Siang dengan tarif seharga Rp.3.000. Tarif itu adalah hasil terkaan logika kami saja karena sebenarnya kami kurang tahu tarif sebenarnya. Sesampai di Terminal Baranang Siang, kami menyambung kendaraan dengan mobil L300 yang biasa disebut dengan bis kol. Tidak perlu masuk dalam kawasan terminal, bis kol sudah parkir berjejer di seberang terminal dan sudah banyak joki angkutan yang akan menawari dengan penuh semangat. Awalnya kami mencoba memilih angkutan yang sudah ditumpangi cukup banyak penumpang dengan harapan bis tersebut akan langsung berangkat. Hanya saja kami sudah “tertangkap” oleh joki angkutan yang menggiring kami pada bis yang dijokinya. Bis itu baru terisi oleh dua ibu paruh baya yang tampaknya baru pulang belanja. Akhirnya tanpa daya melawan, kami pun naik bis tersebut. Tarif kami pada waktu itu dikenai Rp.18.000. Kata teman kami, tarifnya memang sekitar Rp.18.000-Rp.20.000 di akhir pekan. Jika di hari biasa bisa hanya sekitar Rp.15.000. Cuma ketika saya kembali ke Jakarta pada hari selasa, saya justru dikenai ongkos Rp.20.000. Saya masih kurang mengerti dasar supir menetapkan tarif ini.

Bis kol akhirnya berangkat pukul 10.52 WIB dari Terminal Baranang Siang, Bogor menuju Sukabumi. Setelah melewati Ciawi, bis melaju dengan sungguh cepat. Rasa-rasanya kecepatan menyamai pembalap internasional yang sedang berlaga di Moto GP F1! Ditambah kecepatan tersebut dilakukan pada jalur yang cukup sempit (hanya cukup dua mobil yang berdekatan!), naik turun dan penuh belokan seperti jalur nagrek. Untung saja jalur ini tidak ada jurangnya ataupun tebing. Jika ada, entah apa yang akan saya alami. Fiuhh.. membayangkan saja sudah membuat saya berkeringat! Ahahahhaha.. Daripada saya menyaksikan kengerian yang membuat saya berpikir negatif sang supir akan menabrak, saya memutuskan untuk tidur saja.

Setelah satu jam lebih, tidur saya terbangunkan oleh sang supir yang meminta kami pindah ke bis lain yang sudah diberhentikan. Ternyata bis yang tadi kami tumpangi mengalami ban bocor sehingga kami dioper ke bis yang memiliki tujuan yang sama. Bis itu sudah dipadati oleh penumpang sebelumnya dan ditambah dengan penumpang dari bis kami membuat bis sungguh penuh. Kami kedapatan kursi di samping pak supir padahal sudah ada seorang perempuan yang menempati kursi depan. Mau tidak mau, dan mesti dimuat-muati akhirnya sang supir ditemani oleh 3 perempuan di sampingnya. Ya, kursi depan yang semestinya ditempati dua orang sudah termasuk supir, saat itu kursi depan ditempati oleh empat orang sekaligus! Perjuangan yang cukup berat untuk mengunjungi seorang teman lama dan keinginan melihat ponakan yang baru.

Kami bukan saja harus bertahan desakan berempat di kursi depan, tapi kami pun sungguh-sungguh harus bertahan melihat pemandangan di depan kami! Ganti bis ternyata tidak mengganti gaya menyupir kendaraan. Sang supir juga berkendara dengan kebut-kebutan dan kali ini kami mesti menyaksikan betapa kencangnya bis kami dan betapa dekatnya jarak bis dengan kendaraan di depan kami! Owek sampai menggenggam erat lengan saya saking terkejut dan dicampur takut menabrak. Keadaan seperti itu kami alami selama hampir dua jam hingga akhirnya kamu sampai di Terminal Sukabumi yang berada di Jalan Sudirman pada pukul 14.09 WIB. Begitu turun saya langsung menghela napas sedalam dan sepanjangnya, menandakan betapa leganya saya telah tiba di Sukabumi dengan selamat! Kalau Owek, setelah turun dia mengucap “Ya Allah, Nistiiiiii.. Perjuangan men 'ngunjungi koe..” dengan ekspresi yang saya bingung deskripsikan antara kelegaan penuh syukur, penyesalan atau ketakutan. Ahahahaha.. 

Saya menyebut perjalanan kali ini adalah sebuah perjalanan persahabatan yang membuat kami menjalani sebuah perjuangan yang tak mudah demi sebuah persahabatan dan memiliki pemaknaan yang luar biasa terhadap arti sebuah pertemuan. Perjuangan dimana jarak kami hanyalah dipisahkan oleh satu batas propinsi antara propinsi DKI Jakarta dengan Propinsi Jawa Barat.

Oh iya, demi si kecil ini lah yang mendasari kami melakukan perjalanan persahabatan ini:


Tidak ada komentar:

Posting Komentar